Categories
News

Menelusur Jejak Bioteknologi Pendukung Agribisnis

Teknologi bisa membantu penyedia – an kebutuhan pangan yang sema – kin meningkat. Menurut Sonny Ta – baba, Biotechnology Affairs Director CropLife Asia, pangan dunia harus tersedia dan stabil suplainya. Namun, banyak tantangan terkait keamanan pangan, se – perti kekurangan lahan dan kompetisi air. “Air marak diperjualbelikan dan pertanian banyak menggunakan air,” ujarnya. Sonny menilai, ilmu dan teknologi perta – nian bisa menjawab tantangan tersebut. Salah satunya adalah bioteknologi (bio tek). Karena itu, CropLife Asia mengajak petani, peneliti, pemerintah, industri, dan media se-Asia untuk bertukar pengalam an dan berbagi informasi teknologi pertanian di acara The 12th PAN-Asia Farmers Exchange Program 2018 di Manila, Filipina. Pada acara yang berlangsung 12-16 Ma – ret 2018 itu peserta tidak hanya mendapat pengetahuan tentang biotek. Tetapi juga berkesempatan melihat langsung tanaman biotek yang sudah membantu me – ning katkan kesejahteraan petani di Filipi – na. Banyak pengalaman berharga yang diperoleh selama PAN-Asia. Simak keseruan para peserta menelusur jejak bioteknologi di Filipina.

Bioteknologi di Asia

Pelaksanaan PAN-Asia diawali pemapar – an mengenai perkembangan biotek di dunia dan Asia. Gabriel Romero menjelas – kan gambaran bioteknologi modern. Chair CLP Seed Committe Monsanto Filipi – na itu menerangkan, saat masyarakat me – nikmati ponsel pintar (smart phone), pe – tani kini menikmati teknologi unggul, yai – tu bioteknologi (genetically modified organism-GMO). Biotek sebenarnya bukan ilmu baru tapi perluasan teknologi pembenihan (breeding) melalui transfer DNA. Teknologi DNA sangat penting untuk me – nge tahui karakter gen. “Bedanya breeding tradisonal, kita punya dua tanaman berbeda. Ketika ingin me – nga winkannya, ada gen-gen yang tidak kita inginkan ikut terbawa.

Di biotek, kita hanya mentrasfer gen yang diinginkan,” katanya di Manila, Selasa (13/3). Merle Palacpac, Co-Chair, Department of Agriculture Biosafety Committee Filipina mengangkat tema pengenalan kerangka aturan keamanan hayati Filipina untuk ta – naman biotek. Di negaranya, ungkap Mere – le, pengajuan sertifikasi tanaman biotek umumnya 85 hari dari sebelumnya 120 hari. Sekitar 40% petani petani Filipina sudah menanam benih jagung biotek, seperti jagung Bt, jagung RR, dan persilangan jagung Bt dan RR. Produktivitas rata-rata jagung biotek sekitar 9-10 ton/ha. Namun, ada juga petani yang mencapai 13 ton/ha.

Sesi dilanjutkan tukar informasi biotek dari setiap peserta, meliputi Australia, In – donesia, Malaysia, Taiwan, Vietnam, Korea Selatan, Thailand, Singapura, Filipina, India, dan Pakistan. Jasmyn Allen, petani kanola dari Australia menyatakan senang menggunakan benih kanola biotek se – bab tanamannya sangat sehat, kuat, dan pertumbuhannya tidak tersaingi rumput lantaran toleran herbisida. “Tambahan hasil panen lebih dari 0,5 ton/ ha daripada benih kanola non-GM,” ucap perempuan yang mengelola 4.000 ha lahan kanola di Geraldton, Australia Barat, Aus – tralia bersama Rodney Allen, sang suami. Ir. Syafaruddin, Ph.D, Kepala Balai Pe ne – litian Tanaman Industri dan Penyegar me -wa kili Indonesia mengatakan, produk bio – tek yang disetujui di Indonesia terdiri atas 24 produk kategori aman pangan, 4 produk aman pakan, dan 6 produk aman ling – kungan. Produk itu berupa jagung, kedelai, tebu, dan kapas. “Produk biotek yang disetujui ditanam di Indonesia ada lah tebu to – le ran kekeringan. Sedangkan jagung toleran herbisida masih menunggu petunjuk pengawasan pascarilis dan peraturan pele – pasan varietas biotek,” jelasnya.

Menyentuh Bioteknologi

Menempuh perjalanan sejauh 69,4 km dari Manila, peserta PAN-Asia menginjak – kan kaki di Los Banos, Laguna. Di sini me – reka mengunjungi Institut Penelitian Padi Internasional (International Rice Research Institute-IRRI). Dr. Russell Reinke, Senior Scientist Pro – gram, Lead, Healthier Rice, Strategic Innovations Platform IRRI menjabarkan,untuk mengatasi malnutrisi yang terjadi di negara-negara Afrika, India, dan Bang – ladesh, IRRI merakit padi biotek yang sarat mikronutrien, seperti betakaroten, zink, dan besi (iron). Beras itu bernama golden rice yang kaya betakaroten. Betakaroten akan berubah menjadi vitamin A. Lalu, beras HIZR (High Iron and Zinc Rice) yang kadar besi dan zink-nya tinggi. Peserta lalu diajak menyelisik isi dalam IRRI mulai dari screen house untuk mena – nam golden rice, ruang penyimpanan gen padi dari seluruh dunia, hingga lab gene – tik tempat merakit padi biotek. Keesokan harinya, perjalanan berlanjut sejauh 171 km dari Manila menuju San Manuel, Tarlac, tempat petani menanam jagung biotek. Peserta melihat langsung tanaman jagung biotek dan berdiskus dengan Eulogio ‘Totie’ Cabilles, petani jagung Filipina yang sudah menanam jagung biotek sejak 2006. “Ketika perusahaan memperkenalkan jagung Bt, produksi kami naik 5 kali lebih tinggi. Satu hektar bisa memproduksi 10- 12 ton/ha. Sangat tinggi,” ungkap Totie yang menanam benih besutan Syngenta. Sebelumnya produksi hanya 2-3 ton/ha dengan jagung non-GM. Setelah puas bertukar pengalaman, peserta melanjutkan persinggahan ke pabrik pe – rakit benih jagung biotek yang berjarak 132 km ke arah selatan. Di pabrik milik Monsanto Filipina itu peserta PAN-Asia menyaksikan bagaimana benih jagung biotek diseleksi, dikemas, hingga siap dipasarkan.